
| Judul | PENGEMBANGAN EKOWISATA DENGAN MODEL PENTAHELIX DI KAMPUNG WISATA ADAT MALASIGI DISTRIK KLAYILI KABUPATEN SORONG PROVINSI PAPUA BARAT DAYA / Dinda Shaafiya Salsabila |
| Pengarang | Dinda Shaafiya Salsabila Samsul Arifin |
| Penerbitan | Jatinangor : Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), 2025 |
| Deskripsi Fisik | 13 |
| Subjek | Pariwisata di Kaylili |
| Abstrak | Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kampung Wisata Adat Malasigi yang terletak di provinsi Papua Barat daya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berbasis alam dan budaya. Namun, pengembangan ekowisata di kawasan ini masih terkendala oleh kurangnya kolaborasi antara pemangku kepentingan dan terbatasnya infrastruktur yang mendukung. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengembangan ekowisata dengan menggunakan model pentahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, media, dan masyarakat lokal. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini yakni pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumentasi, peneltian ini menggunakan 6 informan yang dipilih secara purposive, yaitu mereka yang terlibat langsung dalam pengembangan ekowisata di Kampung Malasigi. Informan berasal dari lima unsur model pentahelix, yaitu pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni Teori Pentahelix dari Riyanto (2018), yang mencakup lima dimensi, yaitu pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, media, dan masyarakat lokal. Hasil/Temuan: Temuan yang diperoleh oleh penulis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang efektif antara pemangku kepentingan sangat penting untuk mengoptimalkan potensi ekowisata, meskipun masih terdapat hambatan seperti rendahnya pemahaman masyarakat tentang ekowisata dan terbatasnya akses infrastruktur. Kesimpulan: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan ekowisata di Kampung Wisata Adat Malasigi memerlukan peningkatan kerjasama antar pemangku kepentingan, pemberdayaan masyarakat, serta perbaikan infrastruktur agar ekowisata dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Kata Kunci: pentahelix, ekowisata, pengembangan pariwisata |
| Lokasi Akses Online | http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/24547 |
| No Barcode | No. Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
| 00143/IPDN/2026 | Baca di tempat | Perpustakaan Pusat IPDN Jatinangor - Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor | Tersedia |
| Tag | Ind1 | Ind2 | Isi |
| 001 | INLIS000000001192150 | ||
| 005 | 20260121064559 | ||
| 035 | # | # | $a 0010-0126000595 |
| 082 | # | # | $a 915.988 312 04 |
| 084 | # | # | $a 915.988 312 04 DIN p |
| 100 | 0 | # | $a Dinda Shaafiya Salsabila |
| 245 | 1 | # | $a PENGEMBANGAN EKOWISATA DENGAN MODEL PENTAHELIX DI KAMPUNG WISATA ADAT MALASIGI DISTRIK KLAYILI KABUPATEN SORONG PROVINSI PAPUA BARAT DAYA /$c Dinda Shaafiya Salsabila |
| 260 | # | # | $a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN),$c 2025 |
| 300 | # | # | $a 13 |
| 520 | # | # | $a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kampung Wisata Adat Malasigi yang terletak di provinsi Papua Barat daya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berbasis alam dan budaya. Namun, pengembangan ekowisata di kawasan ini masih terkendala oleh kurangnya kolaborasi antara pemangku kepentingan dan terbatasnya infrastruktur yang mendukung. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengembangan ekowisata dengan menggunakan model pentahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, media, dan masyarakat lokal. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini yakni pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumentasi, peneltian ini menggunakan 6 informan yang dipilih secara purposive, yaitu mereka yang terlibat langsung dalam pengembangan ekowisata di Kampung Malasigi. Informan berasal dari lima unsur model pentahelix, yaitu pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni Teori Pentahelix dari Riyanto (2018), yang mencakup lima dimensi, yaitu pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, media, dan masyarakat lokal. Hasil/Temuan: Temuan yang diperoleh oleh penulis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang efektif antara pemangku kepentingan sangat penting untuk mengoptimalkan potensi ekowisata, meskipun masih terdapat hambatan seperti rendahnya pemahaman masyarakat tentang ekowisata dan terbatasnya akses infrastruktur. Kesimpulan: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan ekowisata di Kampung Wisata Adat Malasigi memerlukan peningkatan kerjasama antar pemangku kepentingan, pemberdayaan masyarakat, serta perbaikan infrastruktur agar ekowisata dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Kata Kunci: pentahelix, ekowisata, pengembangan pariwisata |
| 650 | # | 4 | $a Pariwisata di Kaylili |
| 700 | 0 | # | $a Samsul Arifin |
| 856 | # | # | $a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/24547 |
Content Unduh katalog
Karya Terkait :