Cite This        Tampung        Export Record
Judul COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM MENGATASI KEMISKINAN EKSTREM DI KABUPATEN ACEH UTARA / Muhammad Rizky Al-Kautsar
Pengarang Muhammad Rizky Al-Kautsar
Sampara Lukman
Penerbitan Jatinangor : Institut Pemerintahan Dalam Negeri, 2025
Deskripsi Fisik 16 :Ilus
Subjek Penanggulangan Kemiskinan
Abstrak Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kabupaten Aceh Utara menghadapi tantangan kemiskinan ekstrem meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam. Pada 2024, sebanyak 18.650 jiwa tercatat sebagai penduduk miskin ekstrem, mencerminkan perlunya pendekatan tata kelola kolaboratif antar pemangku kepentingan. Tujuan: Menganalisis penerapan collaborative governance dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Aceh Utara. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan terdiri dari 11 orang, yaitu Sekda, Kepala Dinas Sosial, Kepala Bidang Banjamsos, Sekretaris Bappeda, Kepala PUPR, Kepala Baitul Mal, pegawai Bank Aceh, dan empat masyarakat miskin. Analisis mengacu pada model Collaborative Governance dari Ansell & Gash (2007), yang mencakup empat dimensi utama: kondisi awal, desain kelembagaan, kepemimpinan fasilitatif, dan proses kolaboratif. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil/Temuan: Pelaksanaan collaborative governance dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Aceh Utara belum sepenuhnya efektif. Kondisi awal ditandai ketimpangan sumber daya dan rendahnya insentif partisipasi. Desain kelembagaan sudah membentuk forum kolaborasi, namun aturan kerja sama belum konsisten dan transparan. Kepemimpinan fasilitatif berjalan, tapi masih perlu penguatan kapasitas dan konsistensi antar aktor. Dalam proses kolaboratif, dialog dan kepercayaan mulai tumbuh, meski komitmen dan pemahaman bersama masih lemah. Faktor pendukungnya antara lain peran Baitul Mal, partisipasi masyarakat, dan regulasi; sedangkan hambatannya adalah lemahnya koordinasi, keterbatasan anggaran, dan data kemiskinan yang belum akurat. Kesimpulan: Collaborative governance dalam mengatasi kemiskinan ekstrem di Kabupaten Aceh Utara belum berjalan secara optimal. Meskipun telah terdapat upaya kolaboratif antar pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat, penerapannya masih menghadapi hambatan struktural dan kelembagaan yang mengurangi efektivitas kerja sama. Diperlukan penguatan dalam aspek koordinasi lintas sektor, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta perbaikan mekanisme kolaboratif yang lebih inklusif dan transparan. Kata kunci: Kemiskinan ekstrem, Collaborative Governance, Pemerintah Daerah, Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan
Lokasi Akses Online http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/22855

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
00170/IPDN/2026 Baca di tempat Perpustakaan Pusat IPDN Jatinangor - Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000001192222
005 20260121115703
035 # # $a 0010-0126000667
082 # # $a 362.559.811.41
084 # # $a 362.559.811.41 MUH c
100 0 # $a Muhammad Rizky Al-Kautsar
245 1 # $a COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM MENGATASI KEMISKINAN EKSTREM DI KABUPATEN ACEH UTARA /$c Muhammad Rizky Al-Kautsar
260 # # $a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025
300 # # $a 16 : $b Ilus
520 # # $a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Kabupaten Aceh Utara menghadapi tantangan kemiskinan ekstrem meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam. Pada 2024, sebanyak 18.650 jiwa tercatat sebagai penduduk miskin ekstrem, mencerminkan perlunya pendekatan tata kelola kolaboratif antar pemangku kepentingan. Tujuan: Menganalisis penerapan collaborative governance dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Aceh Utara. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan terdiri dari 11 orang, yaitu Sekda, Kepala Dinas Sosial, Kepala Bidang Banjamsos, Sekretaris Bappeda, Kepala PUPR, Kepala Baitul Mal, pegawai Bank Aceh, dan empat masyarakat miskin. Analisis mengacu pada model Collaborative Governance dari Ansell & Gash (2007), yang mencakup empat dimensi utama: kondisi awal, desain kelembagaan, kepemimpinan fasilitatif, dan proses kolaboratif. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil/Temuan: Pelaksanaan collaborative governance dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Aceh Utara belum sepenuhnya efektif. Kondisi awal ditandai ketimpangan sumber daya dan rendahnya insentif partisipasi. Desain kelembagaan sudah membentuk forum kolaborasi, namun aturan kerja sama belum konsisten dan transparan. Kepemimpinan fasilitatif berjalan, tapi masih perlu penguatan kapasitas dan konsistensi antar aktor. Dalam proses kolaboratif, dialog dan kepercayaan mulai tumbuh, meski komitmen dan pemahaman bersama masih lemah. Faktor pendukungnya antara lain peran Baitul Mal, partisipasi masyarakat, dan regulasi; sedangkan hambatannya adalah lemahnya koordinasi, keterbatasan anggaran, dan data kemiskinan yang belum akurat. Kesimpulan: Collaborative governance dalam mengatasi kemiskinan ekstrem di Kabupaten Aceh Utara belum berjalan secara optimal. Meskipun telah terdapat upaya kolaboratif antar pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat, penerapannya masih menghadapi hambatan struktural dan kelembagaan yang mengurangi efektivitas kerja sama. Diperlukan penguatan dalam aspek koordinasi lintas sektor, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta perbaikan mekanisme kolaboratif yang lebih inklusif dan transparan. Kata kunci: Kemiskinan ekstrem, Collaborative Governance, Pemerintah Daerah, Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan
650 # 4 $a Penanggulangan Kemiskinan
700 0 # $a Sampara Lukman
856 # # $a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/22855
Content Unduh katalog