Cite This        Tampung        Export Record
Judul ANALISIS POLITIK IDENTITAS DALAM PEROLEHAN SUARA PETAHANA PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH TAHUN 2020 DI KECAMATAN SAMPUNG KABUPATEN PONOROGO PROVINSI JAWA TIMUR / Rohman Wahyu Saputro
Pengarang Rohman Wahyu Saputro
Hadi Prabowo
Penerbitan Sumedang : Institut Pemerintahan Dalam Negeri, 2023
Deskripsi Fisik 14 :ilus
Subjek Pemilihan umum di Indonesia
Abstrak Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Berkurangnya suara petahana pada pemilihan umum kepala daerah kabupaten ponorogo tahun 2020 yang berujung pada tidak terpilihnya kembali petahana menjadi pembahasan yang menarik. Diatas kertas petahana diunggulkan dengan mengantongi dukungan dari 6 partai politik serta 36 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pada kontestasi pemilihan umum kepala daerah, politik identitas seringkali digunakan untuk menarik simpati masyarakat dengan berbagai strategi. Pendekatan dapat dilakukan kepada tokoh agama, budaya, maupun birokrat untuk memperoleh dukungan. Ketiga bentuk masyarakat ini dalam pandangan Clifford Geertz disebut sebagai masyarakat abangan, santri, dan priyayi. Tujuan: Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui penyebab hilangnya ketertarikan masyarakat kepada petahana. Metode: Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan induktif dengan data primer sebagai sumber data yang didapatkan dari hasil wawancara. Teori yang digunakan untuk menganalisis pada penelitian ini adalah Teori Marketing Politik 4P oleh Niffeneger. Hasil/Temuan: Penelitian menunjukkan bahwa penantang petahana pada pemilihan umum kepala daerah kabupaten ponorogo tahun 2020 lebih dekat dengan masyarakat khususnya masyarakat abangan, santri maupun priyayi. Personal penantang petahana dinilai lebih sederhana dan tidak terkesan elitis karena mampu berbaur dengan masyarakat. Kesimpulan: Ketertarikan masyarakat terhadap petahana berkurang karena beberapa hal seperti kebijakan pentas seni reyog “11-an” kurang berjalan dengan baik karena sedikit memberatkan masyarakat terkait pendanaan kegiatan, berkurangnya minat aparatur sipil negara terhadap petahana serta minimnya pembangunan infrastruktur jalan di kecamatan sampung.
Lokasi Akses Online http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/15871

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
07143/IPDN/2023 324.959 859 828 ROH a Baca di tempat Perpustakaan Pusat IPDN Jatinangor - Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000001195480
005 20260417010507
035 # # $a 0010-0426000625
082 # # $a 324.959 859 828
084 # # $a 324.959 859 828 ROH a
100 0 # $a Rohman Wahyu Saputro
245 1 # $a ANALISIS POLITIK IDENTITAS DALAM PEROLEHAN SUARA PETAHANA PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH TAHUN 2020 DI KECAMATAN SAMPUNG KABUPATEN PONOROGO PROVINSI JAWA TIMUR /$c Rohman Wahyu Saputro
260 # # $a Sumedang :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2023
300 # # $a 14 : $b ilus
520 # # $a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Berkurangnya suara petahana pada pemilihan umum kepala daerah kabupaten ponorogo tahun 2020 yang berujung pada tidak terpilihnya kembali petahana menjadi pembahasan yang menarik. Diatas kertas petahana diunggulkan dengan mengantongi dukungan dari 6 partai politik serta 36 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pada kontestasi pemilihan umum kepala daerah, politik identitas seringkali digunakan untuk menarik simpati masyarakat dengan berbagai strategi. Pendekatan dapat dilakukan kepada tokoh agama, budaya, maupun birokrat untuk memperoleh dukungan. Ketiga bentuk masyarakat ini dalam pandangan Clifford Geertz disebut sebagai masyarakat abangan, santri, dan priyayi. Tujuan: Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui penyebab hilangnya ketertarikan masyarakat kepada petahana. Metode: Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan induktif dengan data primer sebagai sumber data yang didapatkan dari hasil wawancara. Teori yang digunakan untuk menganalisis pada penelitian ini adalah Teori Marketing Politik 4P oleh Niffeneger. Hasil/Temuan: Penelitian menunjukkan bahwa penantang petahana pada pemilihan umum kepala daerah kabupaten ponorogo tahun 2020 lebih dekat dengan masyarakat khususnya masyarakat abangan, santri maupun priyayi. Personal penantang petahana dinilai lebih sederhana dan tidak terkesan elitis karena mampu berbaur dengan masyarakat. Kesimpulan: Ketertarikan masyarakat terhadap petahana berkurang karena beberapa hal seperti kebijakan pentas seni reyog “11-an” kurang berjalan dengan baik karena sedikit memberatkan masyarakat terkait pendanaan kegiatan, berkurangnya minat aparatur sipil negara terhadap petahana serta minimnya pembangunan infrastruktur jalan di kecamatan sampung.
650 # 4 $a Pemilihan umum di Indonesia
700 0 # $a Hadi Prabowo
856 # # $a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/15871
Content Unduh katalog