
| Judul | NEGOSIASI KONFLIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI KAWASAN WISATA DANAU TOLIRE KOTA TERNATE PROVINSI MALUKU UTARA / Putrie Saridewi |
| Pengarang | Putrie Saridewi Dedy Pribadi Uang |
| Penerbitan | Jatinangor : Institut Pemerintahan Dalam Negeri, 2025 |
| Deskripsi Fisik | 17 |
| Subjek | sumber daya air |
| Abstrak | Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya konflik yang terjadi terkait pengelolaan sumber daya air di kawasan wisata Danau Tolire di Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Permasalahan ini ditandai dengan pemutusan air di empat rumah ibadah oleh PDAM akibat tunggakan pembayaran dari Dinas Pariwisata, meskipun dinas tersebut sebelumnya menyatakan bahwa tanggung jawab air di kawasan wisata menjadi bagian dari kewenangannya. Minimnya studi yang secara khusus membahas konflik pengelolaan sumber daya air di kawasan wisata dan penyelesaiannya melalui mekanisme negosiasi, khususnya di konteks lokal seperti Kota Ternate, membuat penelitian ini menjadi urgensi dilakukannya penelitian ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik pengelolaan sumber daya air yang terjadi di kawasan wisata Danau Tolire serta menjelaskan bagaimana proses negosiasi dijalankan sebagai bentuk resolusi konflik antara pihak-pihak yang bersengketa. Metode: Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dan snowball sampling berupa 17 informan, yakni Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Ternate, Lurah Takome, 3 (tiga) anggota forum masyarakat Takome, pengurus rumah ibadah, pengurus destinasi wisata Danau Tolire, 5 (lima) warga Takome, dan 5 (lima) pengunjung wisata Danau Tolire Kota Ternate. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik telah terjadi secara berulang (tahun 2019, 2022, dan 2024) dan bersumber dari lemahnya komunikasi serta ketidakjelasan tanggung jawab pembayaran air. Proses negosiasi terbagi dalam tiga tahap: pra-negosiasi, pelaksanaan negosiasi, dan evaluasi hasil. Kesimpulan: Kesimpulannya, negosiasi merupakan mekanisme yang efektif dalam meredakan konflik dan membangun kesepakatan antara masyarakat dan pemerintah daerah, meskipun implementasinya masih membutuhkan penguatan komitmen dari pihak terkait. Kata Kunci: konflik, negosiasi konflik, pengelolaan sumber daya air, wisata danau tolire. |
| No Barcode | No. Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
| 07165/IPDN/2025 | Baca di tempat | Perpustakaan Pusat IPDN Jatinangor - Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor | Tersedia |
| Tag | Ind1 | Ind2 | Isi |
| 001 | INLIS000000001192783 | ||
| 005 | 20260129085353 | ||
| 035 | # | # | $a 0010-0126001228 |
| 082 | # | # | $a 333.959 854 23 |
| 084 | # | # | $a 333.959 854 23 PUT n |
| 100 | 0 | # | $a Putrie Saridewi |
| 245 | 1 | # | $a NEGOSIASI KONFLIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI KAWASAN WISATA DANAU TOLIRE KOTA TERNATE PROVINSI MALUKU UTARA /$c Putrie Saridewi |
| 260 | # | # | $a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 |
| 300 | # | # | $a 17 |
| 520 | # | # | $a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya konflik yang terjadi terkait pengelolaan sumber daya air di kawasan wisata Danau Tolire di Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Permasalahan ini ditandai dengan pemutusan air di empat rumah ibadah oleh PDAM akibat tunggakan pembayaran dari Dinas Pariwisata, meskipun dinas tersebut sebelumnya menyatakan bahwa tanggung jawab air di kawasan wisata menjadi bagian dari kewenangannya. Minimnya studi yang secara khusus membahas konflik pengelolaan sumber daya air di kawasan wisata dan penyelesaiannya melalui mekanisme negosiasi, khususnya di konteks lokal seperti Kota Ternate, membuat penelitian ini menjadi urgensi dilakukannya penelitian ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik pengelolaan sumber daya air yang terjadi di kawasan wisata Danau Tolire serta menjelaskan bagaimana proses negosiasi dijalankan sebagai bentuk resolusi konflik antara pihak-pihak yang bersengketa. Metode: Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dan snowball sampling berupa 17 informan, yakni Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Ternate, Lurah Takome, 3 (tiga) anggota forum masyarakat Takome, pengurus rumah ibadah, pengurus destinasi wisata Danau Tolire, 5 (lima) warga Takome, dan 5 (lima) pengunjung wisata Danau Tolire Kota Ternate. Hasil/Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik telah terjadi secara berulang (tahun 2019, 2022, dan 2024) dan bersumber dari lemahnya komunikasi serta ketidakjelasan tanggung jawab pembayaran air. Proses negosiasi terbagi dalam tiga tahap: pra-negosiasi, pelaksanaan negosiasi, dan evaluasi hasil. Kesimpulan: Kesimpulannya, negosiasi merupakan mekanisme yang efektif dalam meredakan konflik dan membangun kesepakatan antara masyarakat dan pemerintah daerah, meskipun implementasinya masih membutuhkan penguatan komitmen dari pihak terkait. Kata Kunci: konflik, negosiasi konflik, pengelolaan sumber daya air, wisata danau tolire. |
| 650 | # | 4 | $a sumber daya air |
| 700 | 0 | # | $a Dedy Pribadi Uang |
Content Unduh katalog
Karya Terkait :