
| Judul | COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM UPAYA PENURUNAN PREVALENSI STUNTING DI KOTA KOTAMOBAGU PROVINSI SULAWESI UTARA / i made maesa wisnantara |
| Pengarang | i made maesa wisnantara Florianus Aser |
| Penerbitan | Jatinangor : Institut Pemerintahan Dalam Negeri, 2025 |
| Deskripsi Fisik | 16 |
| Subjek | kurang gizi |
| Abstrak | Pernyataan Masalah/Latar Belakang (GAP): Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dengan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Kota Kotamobagu, sebagai wilayah yang berkomitmen dalam percepatan penurunan stunting, telah menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masih terdapat berbagai tantangan, seperti keterlibatan masyarakat yang terbatas, data Posyandu yang kurang a kurat, serta peran kader kesehatan yang belum optimal. Kompleksitas ini memerlukan pendekatan kolaboratif lintas sektor yang tidak hanya terstruktur tetapi juga adaptif terhadap dinamika lokal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses Collaborative Governance dalam penanganan stunting di Kota Kotamobagu dengan menggunakan kerangka teori dari Ansell dan Gash (2008), yang menekankan pada dinamika interaksi antar aktor—mulai dari kondisi awal, desain institusional, kepemimpinan fasilitatif, hingga proses dan hasil kolaboratif. Metode: Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus. Penelitian melibatkan aktor-aktor kunci seperti pemerintah daerah, pemangku kepentingan bisnis, komunitas lokal, dan organisasi non-pemerintah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis secara tematik untuk menemukan pola-pola kolaborasi. Hasil:Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan tinjauan literatur. Informan terdiri dari pejabat pemerintah daerah, akademisi, tokoh agama, dan organisasi masyarakat seperti PKK. Kesimpulan:Studi ini menyimpulkan bahwa kolaborasi yang telah terbangun sejauh ini berjalan ke arah yang tepat, namun perlu diperkuat melalui koordinasi akar rumput yang lebih baik, validitas data yang ditingkatkan, serta evaluasi kolaboratif yang berkelanjutan. Kata Kunci: Collaborative Governance, penurunan stunting, proses kolaborasi, aktor multipemangku kepentingan, kebijakan kesehatan masyarakat. |
| Lokasi Akses Online | http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/23096 |
| No Barcode | No. Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
| 06905/IPDN/2025 | Baca di tempat | Perpustakaan Pusat IPDN Jatinangor - Ruang Koleksi Umum Perpustakaan IPDN Jatinangor | Tersedia |
| Tag | Ind1 | Ind2 | Isi |
| 001 | INLIS000000001192465 | ||
| 005 | 20260126052058 | ||
| 035 | # | # | $a 0010-0126000910 |
| 082 | # | # | $a 616.395 984 27 |
| 084 | # | # | $a 616.395 984 27 I M c |
| 100 | 0 | # | $a i made maesa wisnantara |
| 245 | 1 | # | $a COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM UPAYA PENURUNAN PREVALENSI STUNTING DI KOTA KOTAMOBAGU PROVINSI SULAWESI UTARA /$c i made maesa wisnantara |
| 260 | # | # | $a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 |
| 300 | # | # | $a 16 |
| 520 | # | # | $a Pernyataan Masalah/Latar Belakang (GAP): Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dengan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Kota Kotamobagu, sebagai wilayah yang berkomitmen dalam percepatan penurunan stunting, telah menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masih terdapat berbagai tantangan, seperti keterlibatan masyarakat yang terbatas, data Posyandu yang kurang a kurat, serta peran kader kesehatan yang belum optimal. Kompleksitas ini memerlukan pendekatan kolaboratif lintas sektor yang tidak hanya terstruktur tetapi juga adaptif terhadap dinamika lokal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses Collaborative Governance dalam penanganan stunting di Kota Kotamobagu dengan menggunakan kerangka teori dari Ansell dan Gash (2008), yang menekankan pada dinamika interaksi antar aktor—mulai dari kondisi awal, desain institusional, kepemimpinan fasilitatif, hingga proses dan hasil kolaboratif. Metode: Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus. Penelitian melibatkan aktor-aktor kunci seperti pemerintah daerah, pemangku kepentingan bisnis, komunitas lokal, dan organisasi non-pemerintah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis secara tematik untuk menemukan pola-pola kolaborasi. Hasil:Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan tinjauan literatur. Informan terdiri dari pejabat pemerintah daerah, akademisi, tokoh agama, dan organisasi masyarakat seperti PKK. Kesimpulan:Studi ini menyimpulkan bahwa kolaborasi yang telah terbangun sejauh ini berjalan ke arah yang tepat, namun perlu diperkuat melalui koordinasi akar rumput yang lebih baik, validitas data yang ditingkatkan, serta evaluasi kolaboratif yang berkelanjutan. Kata Kunci: Collaborative Governance, penurunan stunting, proses kolaborasi, aktor multipemangku kepentingan, kebijakan kesehatan masyarakat. |
| 650 | # | 4 | $a kurang gizi |
| 700 | 0 | # | $a Florianus Aser |
| 856 | # | # | $a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/23096 |
Content Unduh katalog
Karya Terkait :