
| Judul | KOORDINASI DALAM PERCEPATAN PENURUNAN ANGKA STUNTING DI KOTA BITUNG PROVINSI SULAWESI UTARA / Grandhill Christian Rotinsulu |
| Pengarang | Grandhill Christian Rotinsulu |
| Penerbitan | Jatinangor : Institut Pemerintahan Dalam Negeri, 2025 |
| Deskripsi Fisik | 16 |
| Subjek | kurang gizi |
| Abstrak | Rumusan Masalah/Latar Belakang (GAP): Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, serta menjadi indikator kualitas sumber daya manusia. Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, menempati peringkat ke-5 dari 15 kabupaten/kota dengan prevalensi stunting tertinggi di provinsi tersebut. Meskipun Pemerintah Kota Bitung telah mencanangkan berbagai program seperti edukasi pranikah, pemberian makanan tambahan di sekolah, serta Gerakan Minum Susu (GERIMIS), angka stunting masih berada pada 3,10% pada tahun 2022. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pelaksanaan program percepatan penurunan stunting dengan capaian yang diharapkan. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis koordinasi lintas sektor dalam percepatan penurunan angka stunting di Kota Bitung. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinasi dalam percepatan penurunan stunting telah dilakukan melalui forum lintas sektor dan pelaksanaan program konvergensi, namun belum berjalan optimal. Terdapat 3 Dimensi yang menghadapi kendala yaitu: komunikasi, pembagian kerja, dan disiplin. Faktor geografis wilayah kepulauan, minimnya pelatihan kader, serta kurangnya integrasi program turut menghambat efektivitas pelaksanaan. Namun demikian, terdapat kontribusi positif berupa peningkatan kesadaran masyarakat, peran aktif PKK dalam edukasi pranikah, dan intervensi gizi spesifik di sekolah. Kesimpulan: Koordinasi lintas sektor dalam percepatan penurunan angka stunting di Kota Bitung belum optimal. Diperlukan penguatan komunikasi, kejelasan pembagian peran antar instansi, peningkatan kapasitas kader, serta pemanfaatan teknologi untuk mengatasi hambatan geografis. Koordinasi yang efektif akan mendukung pencapaian target nasional penurunan stunting secara berkelanjutan. Kata Kunci: Stunting, Koordinasi, Kota Bitung, Lintas Sektor, Konvergensi |
| Lokasi Akses Online | http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/24936 |
| No Barcode | No. Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
| 06769/IPDN/2025 | Baca di tempat | Perpustakaan Pusat IPDN Jatinangor - Ruang Koleksi Umum Perpustakaan IPDN Jatinangor | Tersedia |
| Tag | Ind1 | Ind2 | Isi |
| 001 | INLIS000000001192265 | ||
| 005 | 20260122095232 | ||
| 035 | # | # | $a 0010-0126000710 |
| 082 | # | # | $a 616.395 984 232 |
| 084 | # | # | $a 616.395 984 232 GRA k |
| 100 | 0 | # | $a Grandhill Christian Rotinsulu |
| 245 | 1 | # | $a KOORDINASI DALAM PERCEPATAN PENURUNAN ANGKA STUNTING DI KOTA BITUNG PROVINSI SULAWESI UTARA /$c Grandhill Christian Rotinsulu |
| 260 | # | # | $a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025 |
| 300 | # | # | $a 16 |
| 520 | # | # | $a Rumusan Masalah/Latar Belakang (GAP): Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, serta menjadi indikator kualitas sumber daya manusia. Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, menempati peringkat ke-5 dari 15 kabupaten/kota dengan prevalensi stunting tertinggi di provinsi tersebut. Meskipun Pemerintah Kota Bitung telah mencanangkan berbagai program seperti edukasi pranikah, pemberian makanan tambahan di sekolah, serta Gerakan Minum Susu (GERIMIS), angka stunting masih berada pada 3,10% pada tahun 2022. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pelaksanaan program percepatan penurunan stunting dengan capaian yang diharapkan. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis koordinasi lintas sektor dalam percepatan penurunan angka stunting di Kota Bitung. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinasi dalam percepatan penurunan stunting telah dilakukan melalui forum lintas sektor dan pelaksanaan program konvergensi, namun belum berjalan optimal. Terdapat 3 Dimensi yang menghadapi kendala yaitu: komunikasi, pembagian kerja, dan disiplin. Faktor geografis wilayah kepulauan, minimnya pelatihan kader, serta kurangnya integrasi program turut menghambat efektivitas pelaksanaan. Namun demikian, terdapat kontribusi positif berupa peningkatan kesadaran masyarakat, peran aktif PKK dalam edukasi pranikah, dan intervensi gizi spesifik di sekolah. Kesimpulan: Koordinasi lintas sektor dalam percepatan penurunan angka stunting di Kota Bitung belum optimal. Diperlukan penguatan komunikasi, kejelasan pembagian peran antar instansi, peningkatan kapasitas kader, serta pemanfaatan teknologi untuk mengatasi hambatan geografis. Koordinasi yang efektif akan mendukung pencapaian target nasional penurunan stunting secara berkelanjutan. Kata Kunci: Stunting, Koordinasi, Kota Bitung, Lintas Sektor, Konvergensi |
| 650 | # | 4 | $a kurang gizi |
| 856 | # | # | $a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/24936 |
Content Unduh katalog
Karya Terkait :