
| Judul | COLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PERCEPATAN PENURUNAN RABIES DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN / Gundisalvus Allesandro Dey Putra |
| Pengarang | Gundisalvus Allesandro Dey Putra Merintha Suryapuspita |
| Penerbitan | Sumedang : Institut Pemerintahan Dalam Negeri, 2024 |
| Deskripsi Fisik | 8 |
| Subjek | Penanganan Masalah Kesehatan (Rabies) |
| Abstrak | Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Ditemukan adanya kasus rabies pada 6 desa di Kabupaten TTS pada pertengahan tahun 2023 dan mengalami peningkatan hingga akhir tahun 2023 hingga 6,5 kali lipat, hal ini diikuti dengan anggaran dan alokasi vaksin yang belum merata ke desa-desa yang terjangkit virus ini. Tujuan: untuk mendeskripsikan dan menganalisis kolaborasi pemerintah sebagai pemangku kepentingan dengan pihak-pihak terkait dalam rangka percepatan penurunan Rabies di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi NTT. Metode: Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif untuk dapat menjelaskan permasalahan yang terjadi dengan lebih mendalam berdasarkan teori collaborative governance dari (Ratner, 2012) melalui teknik pengambilan data berupa wawancara langsung maupun daring, observasi, dan dokumentasi. Hasil/Temuan: Kolaborasi yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait seperti dinas kesehatan, LSM, dan pihak-pihak lainnya telah berjalan dengan baik walaupun belum sepenuhnya optimal , dimana berdasarkan teori Ratnar dilihat bahwa kolaborasi yang telah dilakukan dengan berbagai macam program hanya saja masih terdapat kendala berupa anggara pembiayaan dan desa-desa terjangkit masih ada yang sulit untuk dijangkau, adapun hasil capaian sudah terlihat dengan berbagai program lintas sektor yang telah diadakan dengan membuat vaksin massal dan pengendalian hewan pembawa virus serta adanya sosialisasi langsung ke masyarakat. Kesimpulan: Kolaborasi dalam penanganan Rabies di Kabupaten TTS menunjukkan langkah awal yang positif dalam menghadapi tantangan kompleks penyakit zoonosis ini, hanya perlu adanya langkah-langkah yang lebih komprehensif untuk dapat mengoptimalkan upaya-upaya yang telah dilakukan. |
| Lokasi Akses Online | http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/19961 |
| No Barcode | No. Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|---|---|---|---|
| 05081/IPDN/2024 | 362.190 959 868 71 GUN c | Baca di tempat | Perpustakaan Pusat IPDN Jatinangor - Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor | Tersedia |
| Tag | Ind1 | Ind2 | Isi |
| 001 | INLIS000000001193977 | ||
| 005 | 20260210090738 | ||
| 035 | # | # | $a 0010-0226001061 |
| 082 | # | # | $a 362.190 959 868 71 |
| 084 | # | # | $a 362.190 959 868 71 GUN c |
| 100 | 0 | # | $a Gundisalvus Allesandro Dey Putra |
| 245 | 1 | # | $a COLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PERCEPATAN PENURUNAN RABIES DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN /$c Gundisalvus Allesandro Dey Putra |
| 260 | # | # | $a Sumedang :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2024 |
| 300 | # | # | $a 8 |
| 520 | # | # | $a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Ditemukan adanya kasus rabies pada 6 desa di Kabupaten TTS pada pertengahan tahun 2023 dan mengalami peningkatan hingga akhir tahun 2023 hingga 6,5 kali lipat, hal ini diikuti dengan anggaran dan alokasi vaksin yang belum merata ke desa-desa yang terjangkit virus ini. Tujuan: untuk mendeskripsikan dan menganalisis kolaborasi pemerintah sebagai pemangku kepentingan dengan pihak-pihak terkait dalam rangka percepatan penurunan Rabies di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi NTT. Metode: Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif untuk dapat menjelaskan permasalahan yang terjadi dengan lebih mendalam berdasarkan teori collaborative governance dari (Ratner, 2012) melalui teknik pengambilan data berupa wawancara langsung maupun daring, observasi, dan dokumentasi. Hasil/Temuan: Kolaborasi yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait seperti dinas kesehatan, LSM, dan pihak-pihak lainnya telah berjalan dengan baik walaupun belum sepenuhnya optimal , dimana berdasarkan teori Ratnar dilihat bahwa kolaborasi yang telah dilakukan dengan berbagai macam program hanya saja masih terdapat kendala berupa anggara pembiayaan dan desa-desa terjangkit masih ada yang sulit untuk dijangkau, adapun hasil capaian sudah terlihat dengan berbagai program lintas sektor yang telah diadakan dengan membuat vaksin massal dan pengendalian hewan pembawa virus serta adanya sosialisasi langsung ke masyarakat. Kesimpulan: Kolaborasi dalam penanganan Rabies di Kabupaten TTS menunjukkan langkah awal yang positif dalam menghadapi tantangan kompleks penyakit zoonosis ini, hanya perlu adanya langkah-langkah yang lebih komprehensif untuk dapat mengoptimalkan upaya-upaya yang telah dilakukan. |
| 650 | # | 4 | $a Penanganan Masalah Kesehatan (Rabies) |
| 700 | 0 | # | $a Merintha Suryapuspita |
| 856 | # | # | $a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/19961 |
Content Unduh katalog
Karya Terkait :