Cite This        Tampung        Export Record
Judul COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENANGANAN GELANDANGAN DAN PENGEMIS DI KABUPATEN BONDOWOSO / Angga Mahendra Putra Juniarto
Pengarang Angga Mahendra Putra Juniarto
Syaefullah
Penerbitan Jatinangor : Institut Pemerintahan Dalam Negeri, 2025
Deskripsi Fisik 22 :Ilus
Subjek gelandang
Abstrak Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Fenomena sosial gelandangan dan pengemis di Kabupaten Bondowoso menunjukkan tren dengan jumlah kasus yang cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini didasarkan pada fenomena gelandangan dan pengemis di Kabupaten Bondowoso yang belum dapat ditangani dengan maksimal. Keterbatasan sumber daya dan kekompleksan masalah dalam penanganannya membawa pada kebutuhan cara penyelesaian yang lebih komprehensif dan menyeluruh. Kontribusi dari berbagai pihak dalam bentuk kolaborasi dipilih sebagai suatu cara solutif dalam penyelesaian masalah gelandangan dan pengemis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis bagaimana proses Collaborative Governance dalam menangani permasalahan gelandangan dan pengemis di Kabupaten Bondowoso beserta faktor pendukung dan penghambatnya. Metode: Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan pendekatan induktif. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui secara mendalam proses penanganan gelandangan dan pengemis di Kabupaten Bondowoso. Adapun informan yang dipilih dalam penelitian ini berasal dari perwakilan pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat. Teknik pengumpulan datanya berupa triangulasi yang meliputi observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Kemudian data dianalisis menggunakan teori Analisis Data oleh Miles dan Huberman (1994) dengan tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun teori yang digunakan dalam mengkaji dan menganalisis penelitian ini didasarkan pada teori Collaborative Governance yang diprakarsai oleh Bryson, Crosby, dan Stone (2006). Teori ini memiliki 5 (lima) dimensi dan 19 (sembilan belas) indikator. Hasil: Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Kolaborasi terjadi dalam 2 (dua) opsi yaitu kolaborasi antar 3 (tiga) sektor meliputi pemerintah, swasta, dan masyarakat serta antar sub-sub sektor meliputi sub-sub pemerintah yaitu DinsosP3AKB, Satpol PP, DPMPTSPNaker, dan Disdukcapil. Adapun faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan kolaborasi didasarkan pada indikator dimana terdapat 8 (delapan) faktor pendukung dan 11 (sebelas) faktor penghambat. Kesimpulan: Pelaksanaan kolaborasi dalam penanganan gelandangan dan pengemis di Kabupaten Bondowoso sudah berjalan namun masih perlu ditingkatkan kualitasnya Kata Kunci: Collaborative Governance, Gelandangan dan Pengemis, Penanganan

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
07155/IPDN/2025 Baca di tempat Perpustakaan Pusat IPDN Jatinangor - Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000001192773
005 20260129083040
035 # # $a 0010-0126001218
082 # # $a 362.592 598 287 1
084 # # $a 362.592 598 287 1 ANG c
100 0 # $a Angga Mahendra Putra Juniarto
245 1 # $a COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENANGANAN GELANDANGAN DAN PENGEMIS DI KABUPATEN BONDOWOSO /$c Angga Mahendra Putra Juniarto
260 # # $a Jatinangor :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2025
300 # # $a 22 : $b Ilus
520 # # $a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Fenomena sosial gelandangan dan pengemis di Kabupaten Bondowoso menunjukkan tren dengan jumlah kasus yang cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini didasarkan pada fenomena gelandangan dan pengemis di Kabupaten Bondowoso yang belum dapat ditangani dengan maksimal. Keterbatasan sumber daya dan kekompleksan masalah dalam penanganannya membawa pada kebutuhan cara penyelesaian yang lebih komprehensif dan menyeluruh. Kontribusi dari berbagai pihak dalam bentuk kolaborasi dipilih sebagai suatu cara solutif dalam penyelesaian masalah gelandangan dan pengemis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis bagaimana proses Collaborative Governance dalam menangani permasalahan gelandangan dan pengemis di Kabupaten Bondowoso beserta faktor pendukung dan penghambatnya. Metode: Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan pendekatan induktif. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui secara mendalam proses penanganan gelandangan dan pengemis di Kabupaten Bondowoso. Adapun informan yang dipilih dalam penelitian ini berasal dari perwakilan pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat. Teknik pengumpulan datanya berupa triangulasi yang meliputi observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Kemudian data dianalisis menggunakan teori Analisis Data oleh Miles dan Huberman (1994) dengan tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun teori yang digunakan dalam mengkaji dan menganalisis penelitian ini didasarkan pada teori Collaborative Governance yang diprakarsai oleh Bryson, Crosby, dan Stone (2006). Teori ini memiliki 5 (lima) dimensi dan 19 (sembilan belas) indikator. Hasil: Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Kolaborasi terjadi dalam 2 (dua) opsi yaitu kolaborasi antar 3 (tiga) sektor meliputi pemerintah, swasta, dan masyarakat serta antar sub-sub sektor meliputi sub-sub pemerintah yaitu DinsosP3AKB, Satpol PP, DPMPTSPNaker, dan Disdukcapil. Adapun faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan kolaborasi didasarkan pada indikator dimana terdapat 8 (delapan) faktor pendukung dan 11 (sebelas) faktor penghambat. Kesimpulan: Pelaksanaan kolaborasi dalam penanganan gelandangan dan pengemis di Kabupaten Bondowoso sudah berjalan namun masih perlu ditingkatkan kualitasnya Kata Kunci: Collaborative Governance, Gelandangan dan Pengemis, Penanganan
650 # 4 $a gelandang
700 0 # $a Syaefullah
Content Unduh katalog