Cite This        Tampung        Export Record
Judul COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENURUNAN STUNTING DI KECAMATAN JONGKONG KABUPATEN KAPUAS HULU PROVINSI KALIMANTAN BARAT / Fira Pebrianti
Pengarang Fira Pebrianti
Vinda Verina
Penerbitan Sumedang : Institut Pemerintahan Dalam Negeri, 2024
Deskripsi Fisik 14 :ilus
Subjek Penanganan Masalah Stunting
Abstrak Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Provinsi Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi yang masuk 10 provinsi dengan angka stunting tertinggi nasional di tahun 2022. Di provinsi Kalimantan Barat salah satu daerah yang mengalami peningkatan prevalensi balita stunting tertinggi di tahun 2022 adalah Kabupaten Kapuas Hulu. Jongkong menempati posisi pertama dengan presentase jumlah anak yang mengalami stunting tertinggi di Kabupaten Kapuas Hulu pada tahun 2021, dimana sebesar 39,4% dari total baduta yang diukur sebanyak 1.773 ribu jiwa yang mengalami stunting. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis Collaborative Governance dalam Penurunan Stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, menganalisis faktor determinan (faktor pendukung dang penghambat) pada Collaborative Governance dalam Penurunan Stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, dan menganalisis upaya yang dilakukan dalam penurunan stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Metode: Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan Grand Teory Ansell and Gash (2008). Secara umum teknik pengumpulan data dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu teknik observasi langsung, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Berdasarkan penelitian terhadap 15 indikator dalam 4 (empat) dimensi oleh Ansell and Gash (2008) dalam penelitiannya tentang percepatan penurunan stunting sudah berjalan dengan baik. Hasil/Temuan: Collaborative Governance dalam penurunan stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat sudah berjalan dengan baik yang dapat dibuktikan dari penelitian yang mengacu pada indikator dan dimensi yang dikemukakan oleh Ansell and Gash (2008) dimana dari 15 indikator dalam empat dimensi collaborative governance dalam penurunan stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat terdapat 11 indikator yang berhasil dan empat indikator yang belum berhasil. Kesimpulan: Keberhasilan 11 indikator dalam teori Ansell and Gash (2008) menunjukan kolaborasi sudah berjalan dengan baik di Kecamatan Jongkong terkait stunting. Namun, Peneliti menemukan faktor lain yang menyebabkan angka stunting di Jongkong mengalami kenaikan yaitu adanya faktor eksternal seperti pola asuh orang tua yang kurang, pemberian PMT yang tidak tepat sasaran dan pemberian ASI ekslusif yang kurang.
Lokasi Akses Online http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/17131

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
04787/IPDN/2024 363.809 598 326 2 FIR c Baca di tempat Perpustakaan Pusat IPDN Jatinangor - Ruang Grey Literature IPDN Jatinangor Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000001193451
005 20260206085713
035 # # $a 0010-0226000535
082 # # $a 363.809 598 326 2
084 # # $a 363.809 598 326 2 FIR c
100 0 # $a Fira Pebrianti
245 1 # $a COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENURUNAN STUNTING DI KECAMATAN JONGKONG KABUPATEN KAPUAS HULU PROVINSI KALIMANTAN BARAT /$c Fira Pebrianti
260 # # $a Sumedang :$b Institut Pemerintahan Dalam Negeri,$c 2024
300 # # $a 14 : $b ilus
520 # # $a Permasalahan/Latar Belakang (GAP): Provinsi Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi yang masuk 10 provinsi dengan angka stunting tertinggi nasional di tahun 2022. Di provinsi Kalimantan Barat salah satu daerah yang mengalami peningkatan prevalensi balita stunting tertinggi di tahun 2022 adalah Kabupaten Kapuas Hulu. Jongkong menempati posisi pertama dengan presentase jumlah anak yang mengalami stunting tertinggi di Kabupaten Kapuas Hulu pada tahun 2021, dimana sebesar 39,4% dari total baduta yang diukur sebanyak 1.773 ribu jiwa yang mengalami stunting. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis Collaborative Governance dalam Penurunan Stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, menganalisis faktor determinan (faktor pendukung dang penghambat) pada Collaborative Governance dalam Penurunan Stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, dan menganalisis upaya yang dilakukan dalam penurunan stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Metode: Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan Grand Teory Ansell and Gash (2008). Secara umum teknik pengumpulan data dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu teknik observasi langsung, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Berdasarkan penelitian terhadap 15 indikator dalam 4 (empat) dimensi oleh Ansell and Gash (2008) dalam penelitiannya tentang percepatan penurunan stunting sudah berjalan dengan baik. Hasil/Temuan: Collaborative Governance dalam penurunan stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat sudah berjalan dengan baik yang dapat dibuktikan dari penelitian yang mengacu pada indikator dan dimensi yang dikemukakan oleh Ansell and Gash (2008) dimana dari 15 indikator dalam empat dimensi collaborative governance dalam penurunan stunting di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat terdapat 11 indikator yang berhasil dan empat indikator yang belum berhasil. Kesimpulan: Keberhasilan 11 indikator dalam teori Ansell and Gash (2008) menunjukan kolaborasi sudah berjalan dengan baik di Kecamatan Jongkong terkait stunting. Namun, Peneliti menemukan faktor lain yang menyebabkan angka stunting di Jongkong mengalami kenaikan yaitu adanya faktor eksternal seperti pola asuh orang tua yang kurang, pemberian PMT yang tidak tepat sasaran dan pemberian ASI ekslusif yang kurang.
650 # 4 $a Penanganan Masalah Stunting
700 0 # $a Vinda Verina
856 # # $a http://eprints.ipdn.ac.id/id/eprint/17131
Content Unduh katalog